Dientry oleh priyo - 25 December, 2014 - 2155 klik
Penelitian Harus Menjawab Permasalahan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Setempat

BPTSTH (Kuok, 24/12/2014)_Kepala Badan Litbang Kehutanan (Kabadan), Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc mengharapkan bahwa minimal 50% hasil penelitian di Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan (BPTSTH) harus dapat menjawab kebutuhan atau permasalahan lingkungan hidup dan kehutanan di Riau. Hal ini disampaikan pada saat acara pembinaan pegawai BPTSTH di ruang rapat BPTSTH, Rabu (24/12).

Untuk menjawab tantangan tersebut, mulai sekarang BPTSTH harus menyusun konsep pengembangan balai untuk 5 tahun ke depan dan hasilnya harus sudah disampaikan ke Kabadan paling lambat akhir Januari 2015. Dan dalam penyusunan konsep tersebut harus merujuk pada quick win Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Konsep penelitian dan pengembangan yang mampu mengakomodir problematikan daerah membutuhkan kejelian dan kepekaan membaca peluang. Ke depan, balai harus bisa mandiri dan menelurkan hak kekayaan intelektual yang berorientasi pada pangan, air dan energi daerah setempat,”kata Kabadan

Oleh karena itu, Kabadan berharap bahwa peningkatan dan pengembangan ketrampilan pegawai fungsional (peneliti dan teknisi) harus sejalan dengan tupoksi dan mengangkat isu lingkungan dan problematika daerah setempat sehingga pegawai fungsional tersebut mempunyai keahlian dengan karakteristik sendiri.

Kabadan memberikan apresiasi yang sangat besar atas pendirian forum fungsional di BPTSTH sebagai wadah bertukar pikiran untuk mengubah pola pikir guna menghasilkan iptek yang unggul. “Forum fungsional lebih diintensifkan lagi, dimana frekuensinya jangan hanya satu bulan sekali dan salah satu arah kajian/diskusinya adalah penyelesaian persoalan-persoalan lingkungan hidup dan kehutanan di Riau. Misalnya bagaimana mengatasi kebakaran hutan dan lahan yang terus terjadi di Riau dalam 17 tahun terakhir,“ harap Kabadan.

Selain itu, Kabadan berharap bahwa kajian atau penelitian unggulan BPTSTH untuk didokumentasikan. Salah satunya adalah lebah madu. Disadari bahwa dari awal sejarah terbentuk BPTSTH hingga sekarang telah banyak dilakukan kegiatan penelitian atau kajian terkait lebah madu. Bahkan sering melakukan alih teknologi kepada petani maupun para pihak lain yang berminat dalam pengembangan lebah madu. ”Banyak fakta dan temuan bahkan teknik/teknologi yang telah dihasilkan, maka sebagai penanda/milestone capaian penelitian sangat perlu disusun sebuah buku tentang lebah madu di Riau,” tegas Kabadan. (ESR & DR)

Penulis : Eko Sutrisno dan Dedy Rahmanto