Dientry oleh Dyah Puspasari - 25 June, 2021 - 915 klik
Ibu dan Generasi Muda, Ujung Tombak Konservasi Mangrove

" Edukasi adalah jalan strategis untuk meningkatkan pemahaman pada berbagai elemen masyarakat tentang pentingnya ekosistem hutan mangrove. Peran Ibu dan generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam upaya ini, yang bahkan dapat menjadi ujung tombak konservasi mangrove kini dan ke depan. "

[FORDA]_Agenda restorasi ekosistem yang dideklarasikan PPB akan menjadi sebuah aksi terpenting bagi bumi dalam sepuluh tahun ke depan. Menurut riset, periode 2021-2030, akan menjadi kesempatan terakhir untuk mencegah bencana akibat perubahan iklim dan menjaga keanekaragaman hayati. Karenanya, setiap komponen bangsa, terutama kaum ibu dan generasi muda, punya peran sangat penting untuk menyelamatkan ekosistem bumi tercinta. 

Baca juga: Babak Baru Restorasi Ekosistem 

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem terpenting di dunia yang terletak di kawasan pesisir. Keberadaannya memiliki peran multifungsi baik secara fisik, ekologi, sosial dan ekonomi. Namun di sisi lain, kawasan pesisir sangat rentan menerima dampak negatif ketika keberadaan mangorve rusak atau hilang. Oleh karena itu, menjaga kelestarian mangrove, memerlukan aksi edukasi di samping kegiatan rehabilitasi dan restorasi. 

Edukasi adalah jalan strategis untuk meningkatkan pemahaman pada berbagai elemen masyarakat tentang pentingnya ekosistem hutan mangrove. Peran Ibu dan generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam upaya ini, yang bahkan dapat menjadi ujung tombak konservasi mangrove kini dan ke depan. 

“Sosok ibu, merupakan pendidik pertama dalam kehidupan anak, selain tentunya sebagai orang yang paling dekat dengan anak-anaknya. Apabila memiliki pemahaman tentang pentingnya menjaga hutan tetap baik, ibu akan menjadi garda terdepan dalam pembentukan karakter cinta alam pada generasi muda,”jelas Dr. Agus Justianto, Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI), saat membuka webinar “Edukasi Restorasi Ekosistem Mangrove”, dan menyampaikan paparan utama, Kamis (24/6). 

Baca materi: Peran Ibu dan Generasi Muda dalam Konservasi Mangrove 

Dalam acara yang digelar secara virtual tersebut, Agus menekankan bahwa pembentukan karakter sangat penting bagi generasi muda. 

“Mereka, sebagai pewaris alam masa depan, diperkirakan akan mengalami dampak kerusakan hutan yang lebih berat dibandingkan saat ini, apabila tidak ada upaya signifikan dan progresif dalam rehabilitasi dan konservasi hutan secara berkelanjutan,” lanjutnya. 

Baca juga: FORDA Ekoliterasi, Mengawal Kesadaran Konservasi Alam Lintas Generasi 

Menurut Agus, upaya membangun karakter cinta alam bagi generasi muda dapat dilakukan melalui strategi internalisasi pendidikan lingkungan dalam materi pendidikan di sekolah. Salah satunya melalui kurikulum, yang diyakini mampu membangun karakter cinta mangrove secara terstruktur dan melekat sepanjang hidup. 

Baca juga: Kurikulum Mangrove Karya Peneliti BLI-KLHK Raih MURI 

Peran ibu, sejak kongres kaum perempuan pertama pada 1928 silam, telah diakui sangat penting keberadaannya dalam menyiapkan peradaban manusia yang unggul. Kini, peran ibu terus berkembang, tidak hanya di ruang domestik melainkan juga di ruang publik, bahkan terbukti memiliki jaringan yang lebih luas dari formal.

Dalam konteks konservasi mangrove, selain memainkan perannya di rumah melalui contoh langsung penerapan cinta alam dalam kehidupan sehari-hari kepada anak-anaknya, ibu dan kaum perempuan umumnya juga mempunyai kesempatan yang sama dan luas dalam memberikan edukasi tentang mangrove melalui bidang pekerjaan yang digeluti (tenaga pendidik, konservasi, peneliti, pemerintahan, dll), termasuk melalui gerakan dari berbagai komunitas, seperti kelompok tani, PKK, dharma wanita, dan sebagainya.

Berbagai aksi yang dapat dilakukan antara lain berpartisipasi dalam aksi menanam, mempromosikan ekowisata dan olahan produk mangrove, memanfaatkan media sosial dalam kampanye mangrove, sebagai bagian dari #GenerasiRestorasi.

Baca juga: Ekowisata, Jalan Tengah Konservasi Ekosistem Mangrove 

Selamatkan Mangrove Kita 

Indonesia memiliki mangrove terluas di dunia, 3,31 juta hektar atau ±20% luas mangrove dunia. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan terdapat 637 ribu hektar lahan mangrove yang kritis di Indonesia. 

“Mangrove kita sedang mengalami penurunan,” ungkap Dr. Virni Budi Arifanti, peneliti BLI KLHK yang menjadi narasumber dalam webinar ini. 

Hal ini menurut Virni, terutama disebabkan konversi mangrove menjadi tambak, pertanian, pemukiman, infrastruktur. Pertambahan jumlah penduduk juga menyebabkan tekanan pada mangrove semakin tinggi, termasuk pengembangan industri di daerah pesisir, eksploitasi air tanah, reklamasi pantai, dan juga sampah-sampah yang dibuang ke laut. 

Unduh materi: Mangrove untuk Kesejahteraan Dunia dan Anak Cucu Kita 

Kerusakan mangrove memberikan beragam dampak di kawasan pesisir. “Di daerah Demak dan kawasan Pantura, banyak rumah yang mulai ambles dan tegenang air, bahkan beberapa desa tidak bisa dihuni lagi karena rumah sudah digenangi air,”papar Virni memberikan salah satu contoh dampak kerusakan mangrove. 

Lebih lanjut dijelaskannya bahwa desa-desa yang memiliki mangrove di pesisirnya, dapat terlindungi dari tsunami. Sementara desa yang tidak punya mangrove, hancur diterjang tsunami.  Akar-akar nafas mangrove yang sangat besar dan muncul di permukaan tanah, dapat meredam gelombang tsunami. 

Untuk menyelamatkan mangrove, Indonesia, pemerintah berkomitmen untuk mengimplementasikan secara nyata pemulihan dan perlindungan mangrove. Dari luas lahan kritis 637 ribu hektar, sudah dilakukan rehabilitasi seluas 17 ribu hektar pada 2020 lalu. Adapun sasaran indikatif rehabilitasi hingga tahun 2024 yaitu 620 ribu hektar. 

Pengalaman Rehabilitasi Mangrove 

Merehabilitasi mangrove bukanlah pekerjaan yang mudah.  Koordinator relawan mangrove SMA Negeri  8 Kota Balikpapan, Rugun Parhusip, S.Pd, mengisahkan pengalaman tim relawannya selama 14 tahun terakhir sejak 2007 silam, dalam webinar ini. 

Tim relawan mangrove terdiri atas 4 orang, yakni Rugun Parhusip, S.Pd., Endang Wati, S.Pd., Endang Sunarti,S.Pd., dan Dewi Sitowati S.Pd. Relawan beranggotakan 100 siswa SMAN 8 yang dididik bergantian setiap penerimaan siswa baru. 

“Mulai dari 2007 sampai sekarang, tim ini solid bersama-sama, bahu membahu bagaimana kita untuk mengembalikan atau mengijaukan hutan mangrove di kelurahan margomulyo,”ungkap Rugun.

Kegiatan relawan menjadi kegiatan ekstra kurikuler SMAN 8, yang dilaksanakan satu kali dalam satu minggu setiap hari Jumat. Aktivitas yang dilakukan relawan adalah pemilihan bibit, pembibitan, penanaman/penyulaman, pembersihan /perawatan, dan pemaanfaatan buah mangrove. Selain itu juga dilakukan kunjungan ke lokasi mangrove yang lain untuk identifikasi beberapa jenis mangrove dan membuat herbarium.

Kini, relawan mangrove SMAN 8 Balikpapan mampu membibit ratusan propagule. Di sana juga tersedia rumah bibit yang mampu menampung kurang lebih tiga ribu bibit.

Upaya tersebut membuahkan hasil, hutan mangrove rusak di belakang sekolah mereka kini sudah menghijau. Bahkan, bekantan pun sudah muncul, sehingga kawasan mangrove tersebut mampui menjadi kawasan ekowisata yang menarik dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Unduh materi: Pengalaman Menghijaukan Mangrove di Desa Kami 

Kiprah Generasi Muda dalam Restorasi Mangrove

Salah satu generasi muda yang inspiratif dan juga telah berkiprah dalam rehabilitasi dan pemanfaatan mangrove, ikut membagikan pengalamannya sejak zaman kuliah, dalam webinar ini. 

“Sepengalaman saya, peran dari generasi muda sangat vital, karena walau pun pionirnya itu para orang tua, tapi jika tidak diteruskan oleh generasi muda, itu akan percuma, akan tinggal menjadi kenangan saja,”ujar Cahyadi Kurniawan, S,Kel., M.Si., CEO Batik Bakau, pembicara dari generasi muda dalam seminar ini. 

Untuk itu menurut Cahyadi, sangat diperlukan penyampaian informasi tentang mangrove kepada generasi muda. Dalam paparannya, Cahyadi menjelaskan kenapa mangrove harus direstorasi, prosesnya (kesesuaian zonasi, persiapan areal tanam, pembibitan dan penamaman, hama dan penyakit, serta monitoring dan evaluasi), siapa yang terlibat, proses keselamatan kerja dalam restorasi, tantangan, dan kunci sukses restorasi mangrove. 

“Selama saya menangani mangrove ini, kegiatan restorasi yang berhasil, harus kegiatan yang berkelanjutan,”lanjut Cahyadi. Kunci sukses lainnya adalah kepastian lahan, pelibatan masyarakat lokal, dukungan pemerintah, dan tim yang solid. 

Selain melakukan aksi langsung di lapangan, kampanye kreatif juga dapat menjadi strategi mengedukasi pentingnya mangrove. Antara lain melalui, film mangrove, industri kreatif mangrove seperti batik bakau, sabun mangrove, berbagai makanan olahan dari mangrove. Dalam semua kegiatan ini, peran ibu menjadi unsur penting keberhasilannya.  

Terkait industri kreatif, kini Cahyadi menekuni batik bakau dengan pewarnaan alami dari limbah bakau. Melalui Batik Bakau ini, secara ekonomi sudah cukup mampu mendukung kehidupan Cahyadi, termasuk pemberdayaan masyarakat setempat dalam proses produksinya. 

Unduh materi: Peran Generasi Muda dalam Restorasi Mangrove 

Aspek sains, pengalaman rehabilitasi, pemanfaatan, kampanye, dan edukasi mangrove di tingkat tapak, yang dihadirkan dalam webinar ini diharapkan dapat menjadi sebuah pembelajaran berharga bagi kaum ibu dan generasi muda lainnya, terutama yang tinggal di kawasan pesisir. 

Webinar “Edukasi Restorasi Ekosistem Mangrove” ini digelar oleh BLI Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkolaborasi dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) BLI KLH, dalam rangka ikutserta memberi makna pada peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) 2021.  Webinar dipandu oleh Ketua DWP BLI KLHK, Ir. Husnelly, M.Si. dengan MC Nilam Sari, S.Hut., M.P, dan dihadiri oleh 611 peserta dari berbagai kalangan, terutama didominasi kaum ibu dan generasi muda.*(DP)

Penulis : Dyah Puspasari
Editor : Yayuk Siswiyanti