Dientry oleh priyo - 29 December, 2015 - 2222 klik
Tim Peneliti BPK Kupang Berhasil Tangkarkan Kura-kura Leher Ular Rote

BPK Kupang (Kupang, 29/12/15)_Di penghujung tahun 2015, Tim Peneliti Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Kupang kembali berhasil tetaskan 11 ekor Kura-kura Leher Ular Rote (Chelodina mccordi Rhodin, 1994), sehingga jumlah total anakan yang ada di Penangkaran Oilsonbai, Kupang menjadi 38 ekor. “Ini adalah kado terindah di akhir tahun 2015 bagi kami tim peneliti sebagai buah kerja keras menangkarkan kura-kura sejak 2009,” ujar Kayat, S.Hut., M.Sc., Peneliti Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Kupang yang konsisten menangani Kura-kura langka itu sejak lima tahun silam, Rabu (29/12)

Sepanjang tahun 2015 ini, indukan Kura-kura Leher Ular Rote yang terdiri atas 1 jantan dan 2 betina itu tercatat sudah menghasilkan 57 butir telur dan berhasil ditetaskan tim peneliti BPK Kupang dengan bantuan inkubator melalui tiga periode, yakni periode Oktober 11 ekor, November 16 ekor, dan Desember 11 ekor. Sehingga koleksi individu Kura-kura Leher Ular Rote yang ada saat ini sebanyak 41 ekor.

Menurut Kayat, terdapat dua poin penting yang menjadi kunci keberhasilan penangkaran Kura-kura yang di alam liar nyaris punah tersebut. Pertama adalah pemilihan pakan yang diberikan kepada indukan, dan kedua adalah menjaga kestabilan suhu inkubator. ”Pakan yang bervariasi seperti ikan Nila, Sarden, Lele, Tembang, dan Udang mampu meningkatkan produktivitas kura-kura untuk menghasilkan telur,” jelas peneliti yang sedang berjuang menyelesaikan disertasi doktoralnya di Universitas Gadjah Mada ini.

Berdasarkan catatan penelitiannya, dampak variasi pakan menjadikan produksi telur terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada saat pertama kali bertelur di tahun 2012, indukan hanya memproduksi 10 butir saja, namun tahun tahun berikutnya terus mengalami peningkatan, yakni 20 butir pada 2013, 36 butir pada 2014 dan 57 butir di tahun 2015. ”Variasi pakan kami optimalkan di tahun 2015, dan hasilnya indukan bisa meningkatkan produksi telurnya hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya” imbuhnya.

Terkait inkubator, Kayat berpendapat bahwa suhu inkubator yang efektif untuk meningkatkan daya tetas telur Kura-kura Leher Ular Rote berada pada kisaran 28-31 derajat celcius. “Menjaga kestabilan suhu inkubator pada kisaran itu sangat penting karena akan meningkatkan daya tetas telur menjadi 66% hingga 100%” ujarnya.

Sementara itu, Grace Serepina Saragih, S.Hut., M.Sc., anggota tim peneliti Satwa Liar yang menangani anakan kura-kura pasca ditetaskan mengatakan bahwa tidak diketahui secara detil kapan anakan Kura-kura ini menetas, tapi berdasarkan pengamatan terakhir, bisa dipastikan antara 24 hingga 27 Desember 2015.

Spesies Kura-kura Leher Ular Rote merupakan satwa endemik Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menjadi salah satu satwa kebanggaan masyarakat NTT selain Komodo dan Burung Kakatua Jambul Kuning. Hasil riset terkait populasi, baik yang dilakukan BPK Kupang maupun dari pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, menyebutkan bahwa sejak 2010 hingga 2015, individu spesies ini sudah tidak ditemukan lagi di habitat alaminya. Tim peneliti BPK Kupang pun merekomendasikan konservasi ex-situ melalui penangkaran sebagai salah satu upaya untuk menghindari spesies langka ini dari kepunahan.

Dalam proses perjalanannya menangani penelitian Kura-kura Leher Ular Rote, Kayat mengakui bahwa tim peneliti kerap mengalami berbagai kendala. “Hingga saat ini kami belum mempunyai alat penanda (tagging) seperti micro chip yang disematkan pada individu anakan maupun indukan,” ujar Kayat.

Diharapkan alat tersebut bisa tersedia secepat mungkin sehingga tim peneliti dapat melakukan pendataan populasi dengan cepat dan mudah. Selain itu, tim peneliti juga berkeinginan menambah indukan dari alam atau penangkaran lain agar tidak terjadi in-breeding pada populasi yang ada di penangkaran ex-situ Kupang.

“Kami juga berharap bisa terus menambah populasi Kura-kura Leher Ular Rote di penangkaran Oilsonbai, Kupang agar dapat sesegera mungkin melepasliarkannya secara in-situ, serta menularkan teknologi penangkaran ke masyarakat dengan melakukan pemberdayaan kelompok penangkar. Sehingga nantinya memicu peningkatan pendapatan masyarakat melalui kelompok tersebut,” pungkasnya.

 

 

Penulis: KYT & BDP

Foto-Foto: KYT & GSS