Dientry oleh Rizda - 30 December, 2016 - 4680 klik
Kembangkan Rotan Jernang di Jambi, Peneliti BLI Inisiasi Pertemuan Para Pihak

BP2LHK Palembang (Jambi, 16/12/2016)_Dalam rangka pengembangan rotan jernang di Provinsi Jambi, peneliti BP2LHK Palembang dan Puslitbang Hutan Bogor menginisiasi pertemuan dengan para pihak. Para pihak tersebut, yaitu Universitas Jambi, LSM Gita Buana, BP2HP, Dishut Prov. Jambi, Universitas Indonesia dan KPHP Sarolangun serta para pengusaha. 

Upaya ini dilakukan guna menyatukan serpihan-serpihan informasi tentang rotan jernang. Parapihak yang ditemui sadar bahwa jernang merupakan produk unggulan dengan banyak kendala dalam pengembangannya. Banyak pihak sebenarnya telah berbuat, namun belum ada sinergitas semua pihak untuk mengelola pengembangan jernang ini. 

BP2HP Wilayah IV Jambi sepakat mengangkat jernang yang merupakan kearifan lokal ini menjadi komoditas unggulan dengan KPHP sebagai lokus kegiatannya. Dengan begitu, masing-masing pihak dapat berkontribusi di KPHP sesuai kapasitasnya. 

Dr. Revis Asra dari Universitas Jambi mengatakan potensi jernang sangat luar biasa, di beberapa hutan di Jambi dan Riau. Beliau pernah menemukan dalam 1 rumpun jernang berjumlah 68 batang dan dalam 1 batang bisa menghasilkan 5 tandan buah. 

“Jika dalam 1 rumpun yang berbuah 10 batang saja, berarti bisa menghasilkan 50 tandan buah dan rata-rata berat buah per tandan adalah 2 kg,” kata Revis. 

Revis menjelaskan, getah jernang yang dihasilkan dari 1 kg buah adalah 1 ons. Maka dari 100 kg buah jernang (50 tandan x 2 kg) bisa dihasilkan 10 kg getah jernang. Ini menunjukkan bahwa jenis ini menjanjikan untuk dikembangkan, baik melalui konservasi maupun budidaya. 

Hal ini mengingat harga getah/resin jernang (dragon blood) yang diperoleh dari bagian luar buah rotan adalah yang tertinggi saat ini, yaitu antara 4,5 juta sampai 6 juta rupiah. Belum lagi, semua bagian buah rotan ini laku dijual karena dapat dimanfaatkan sehingga menambah kuantitas produk rotan jernang. 

Resin merah ini diolah menjadi bermacam-macam obat, seperti antiseptik, meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi rasa sakit, meningkatkan regenerasi jaringan, keseleo, bisul dan mengontrol pendarahan. Selain itu, juga sebagai pewarna untuk rambut, biola dan tinta. 

“Berdasarkan eksplorasi dan penelitian yang telah dilakukan, di wilayah Taman Nasional Bukit 12, telah ditemukan 4 jenis rotan jernang... Yang membedakan antar jenis tersebut dan menjadi karakter spesifik secara morfologi yaitu bentuk buah, ukuran tandan, warna batang, ukuran dan bentuk duri, lanjut Revis,” kata Dr. Revis. 

Sebaran jernang di Jambi ditemukan di Kabupaten Sarolangun, Bungo, dan Merangin serta Suku Talang Mamak yang tinggal di Buffer Zone Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) di Dusun Semerantihan Kabupaten Tebo. Jenis yang banyak adalah Daemonorops draco (jernang rambai) dan jenis burung. 

Sementara itu, LSM Gita Buana mengatakan, produksi jernang terus mengalami penurunan. Tahun 1997, di salah satu lokasi terdapat sekitar 40 kelompok penjernang yang mampu menghasilkan 440 kg resin jernang kualitas super dalam 2 minggu. Tahun 2010 tersisa 11 kelompok yang memperoleh sekitar 5 kg/kelompok, jadi dalam 2 minggu hanya menghasilkan 55 kg resin jernang. 

Sebagaimana diketahui, jernang rambai yang memiliki kualitas baik ini sudah masuk daftar merah IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) tahun 2006 sebagai tumbuhan yang terancam punah. Selain itu, menurut Balai Informasi Kehutanan Provinsi Jambi, tahun 2009 jernang ini sudah dikategorikan langka. 

Berkurangnya luas hutan, rusaknya habitat jernang dan sistem pemanenan yang tidak lestari menyebabkan produksi resin jernang terus menurun. 

Menurut LSM Gita Buana, kesadaran untuk menanam rotan jernang masih kurang, hanya sebagian kecil masyarakat yang melakukan budidaya jenis ini. Salah satu alasannya adalah sulitnya memperoleh bibit rotan jernang rambai. 

Kendala lainnya menurut pengepul jernang adalah lemahnya posisi tawar penjual (eksportir) karena harga ditentukan sepihak oleh pembeli setelah ada hasil pengujian laboratorium berupa kandungan dracoholin dan obat di negaranya masing-masing. 

Untuk itu, Badan Litbang dan Inovasi melalui unit-unit kerjanya akan berperan aktif dalam pengusahaan jernang yang terus dikembangkan di seluruh Sumatera, baik dari hulu sampai hilir. Hulu berupa upaya konservasi jenis untuk menyelamatkan genetik dan sebarannya di alam dan budidaya dengan melibatkan masyarakat untuk menjamin keberadaan bahan baku. Kegiatan hilir, seperti pengolahan pasca panen sampai produk siap pakai untuk meningkatkan produktivitas serta tataniaga dalam upaya meningkatkan nilai tambah.***Sahwalita

Penulis : Sahwalita