Dientry oleh Risda Hutagalung - 17 December, 2019 - 328 klik
Perkuat Kompetensi Bioteknologi, Babes Litbang BPTH Kirim Dua Penelitinya ke Amerika Serikat

Babes Litbang BPTH (USA, Desember 2019) _Untuk memperkuat kompetensi penelitinya terkait bioteknologi, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (Babes Litbang BPTH) Yogyakarta Kirimkan dua orang penelitinya ke Florida, Amerika Serikat  minggu kedua Desember 2019 lalu. Dr. Istiana Prihatini, peneliti di lab. Genetika Molekuler dan Desy Puspitasari, M.Si. dari lab. Hama Penyakit ini mendapat kesempatan berkunjung ke Universitas Florida (UF) dan mendapat pelatihan mengenai deteksi penyakit tanaman pada Plant Diagnostic Center (PDC) dari Institute of Food and Agricultural Science (IFAS) University of Florida di kota Gainesvilles negara bagian Florida Amerika Serikat.

"Pengiriman tenaga ini dalam rangka memperkuat kompetensi SDM dan menjaga kapasitas institusi, untuk tetap berkiprah di level nasional dan global," kata Kepala Babes Litbang BPTH, Dr. Nur Sumedi, S.Pi, MP.

Pelatihan ini dikomandoi oleh Dr. Carrie L. Harmon, sebagai Director dari Plant Diagnostic Center merangkap sebagai Director Executif National Plant Diagnostic Network dan dibantu oleh beberapa stafnya, yaitu Dr. Sladana Bec, Dr. Peng Tian, Max Duncan, Donna Perry, Chriss Curry, Phyllip Daly dan Jeffrey Walsh.

Balai Besar Litbang (BPTH) Yogya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pusat diagnosa penyakit tanaman di Indonesia,” ungkap Dr. Jeremy Brawner selaku salah satu peneliti dari UF yang terlibat dalam kegiatan ACIAR. Adapun peneliti Babes Yogya ke Florida ini dibiaya oleh ACIAR Project No FST 2014/068 "Management Strategies for Acacia Plantation Diseases in Indonesia and Vietnam".

Terkait itu, menurutnya, keterlibatan ahli bioinformatika pada pelaksanaan proyek kerjasama ACIAR perlu dilanjutkan dalam proses analisa data informasi genetik bagi pengembangan penanda molekuler sebagai alat dalam deteksi penyakit tanaman maupun untuk pemuliaan tanaman.

Dr. Istiana, perwakilan peserta kegiatan training menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kesempatan untuk berkunjung ke Florida dan juga kepada semua pihak yang telah memberikan ilmu dan pengalamannya selama peserta berada di Florida.

“Semoga ilmu yang kami peroleh selama di UF dapat dimanfaatkan dan diaplikasikan untuk perlindungan tanaman yang dikembangkan di Indonesia,” kata Dr. Istiana.

Adapun kunjungan dan pelatihan pada 9-11 Desember 2019 tersebut dimulai dengan mengajak peserta melihat fasilitas yang ada di PDC di dalam kompleks kampus IFAS. Kampus IFAS memiliki banyak laboratorium lapangan yang tersebar di seluruh Negara bagian Florida, green house, bengkel kerja serta gudang dengan berbagai fasilitas penyimpanan.

“Alur kerja pada PDC atau pusat diagnostik tanaman dimulai dari bagian penerimaan sampel, pendataan sampel masuk, penyiapan sampel yang dilakukan secara terpisah antara sampel dari luar atau dari dalam negara bagian Florida, isolasi pathogen, deteksi patogen secara mikroskopis atau molekuler serta analisis data dan pembuatan laporan,” kata Dr. Istiana.

Selanjutnya, di hari kedua kunjungan, peserta mendapatkan penjelasan lebih detail dan melihat secara langsung mengenai prosesing sampel yang masuk ke PDC mulai dari bagian penerimaan sampel, proses dokumentasi sampel serta penanganan sampel di dalam laboratorium, dan pembuatan berbagai media buatan untuk mendapatkan isolat bakteri dan jamur patogenik.

“Kami juga mendapatkan kesempatan untuk melihat proses identifikasi penyakit berdasarkan kondisi sampel yang dikirim serta laporan yang dibuat oleh pelanggan PDC pada formulir yang telah disediakan sebelum pengiriman sampel dilakukan,” tambahnya.

Lebih lanjut dijelaskan, pada kunjungan hari terakhir, materi yang diperoleh adalah analisa molekuler menggunakan standard PCR qPCr untuk sampel yang diduga mengandung Phytoptora ramorum yang menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian di Amerika sehingga pengawasan dan pengendalian penyakit ini langsung ditangani oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat/United States Department of Agriculture (USDA).

“Protokol deteksi penyakit ini telah ditetapkan oleh USDA dan wajib diikuti oleh semua lembaga yang melakukan proses deteksi penyakit,” jelas Desy, peneliti lainnya.

Kunjungan diakhiri dengan pengenalan penggunaan nanopore sebagai alat untuk sekuensing DNA pathogen untuk keperluan deteksi cepat maupun sebagai dasar dari pengembangan penanda molekuker sebagai alat untuk deteksi cepat di lapangan nantinya. Acara ditutup dengan diskusi secara santai dengan beberapa peneliti dan dosen dari jurusan kehutanan yang terkait dengan hama penyakit.

Sehari sebelum kunjungan resmi tersebut dimulai, peserta didampingi Dr. Jeremy Brawner berkesempatan untuk melihat fasilitas kampus, mulai dari gedung administrasi, gedung perkuliahan dan asrama untuk tingkat sarjana dan pascasarjana, perpustakaan, gedung olah raga, student union (J. Wayne Reitz Union), serta danau Wauburg bagian selatan yang menjadi milik UF dan digunakan sebagai sarana rekreasi dan pendidikan bagi mahasiswa, dosen dan staf.***IP

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :

Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun Pakem Sleman DI Yogyakarta - Indonesia

Email                : breeding@biotifor.or.id

Website            : www.biotifor.or.id

Instagram          : www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook         : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

E-Journal             : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index

Penulis : Tim website