Dientry oleh BP2LHK Aek Nauli - 28 December, 2020 - 417 klik
Pentingnya Indonesia Memiliki Bank Benih Kelas Dunia

" Kerja sama dengan Seed Vault di Korea Selatan dapat berupa transfer pengetahuan dan penitipan benih. Selain itu juga dapat mengadopsi teknologi untuk membangun Seed Vault dengan spesies tertentu, seperti mengadopsi bentuk kubah benihnya khusus untuk benih tropis di masa depan "

[FORDA] _Seed vault (bank benih) merupakan ruang penyimpanan benih (sumber daya genetik tanaman) yang berharga di masa depan terutama untuk obat-obatan, pengetahuan, pengembangan produktivitas benih, dalam menghadapi kondisi abnormal (perubahan iklim, bencana global, kepunahan, perang dan ledakan nuklir). Beberapa ahli menyebut bank benih dibangun untuk mengatasi kerentanan pasokan makanan terhadap patogen yang tidak terkendali oleh agrokimia, atau mencegah musnahnya secara permanen sifat genetik yang berharga, yang dapat dibiakkan menjadi varietas tradisional selama ribuan tahun.

Seperti di negara lainnya, di Indonesia, perubahan iklim dan bencana alam yang tidak bisa dihindari bukan tidak mungkin menyebabkan kerawanan akan kepunahan benih. Namun, sampai saat ini Indonesia belum memiliki sarana dan prasarana terkait bank benih berkelas dunia tersebut.

Padahal menurut peneliti BP2LHK Aek Nauli, Freddy Jontara Hutapea, S,Hut, M.For.Sc, Indonesia sebagai negara tropis sangat penting memiliki bank benih dalam rangka mengatasi bencana alam dan kepunahan tumbuh-tumbuhan. Dengan luasan kawasan hutan mencapai 125,92 juta ha, Indonesia sangat potensial untuk dibangun bank benih berkelas dunia.

Seed vault sangat penting di Indonesia karena beberapa lokasi di Indonesia rentan terhadap bencana alam, seperti bencana tsunami di Banda Aceh,” kata Freddy. “Ini adalah salah satu solusi untuk menghadapi perubahan iklim dengan melakukan pengamanan keanekaragaman hayati, konservasi permanen sumber daya genetik tanaman di masa depan,” tambahnya.

Senada dengan itu, Peneliti BP2LHK Aek Nauli lainnya, Johansen Silalahi, S.Hut, M.Sc, menjelaskan bahwa pembangunan seed vault harus dikembangkan di tempat yang aman (konservasi ex-situ) dan khusus pada jenis-jenis spesies yang ada di daerah tropis.

Menurut catatannya ketika mengunjungi Baekdudaegan Seed Vault di Korea Selatan dan dari berbagai sumber lainnya, setidaknya ada empat standar yang harus dipenuhi untuk membangun bank benih. Lokasinya harus aman dari bencana alam dan bencana lingkungan (gempa, tsunami, banjir, wabah penyakit, dll); dan memiliki standar keamanan yang tinggi (bangunan dan lemari penyimpanan dilapisi baja/besi anti karat dan tahan terhadap ledakan).

Selain itu, kapasitasnya harus mampu menyimpan jutaan benih; serta memiliki ruangan dan fasilitas penyimpanan benih yang canggih (benih dikemas khusus dalam ruangan bersuhu -18 oC untuk memastikan aktivitas metabolisme yang rendah dan menunda penuaan benih).

Terkait itu, menurutnya kerja sama dengan bank benih yang ada di Korea Selatan dapat dijadikan sebagai titik awal pembangunan di Indonesia dengan cara transfer teknologi sebagai inisiasi awal pembangunan bank benih.

“Kerja sama dengan bank benih di Korea Selatan dapat berupa transfer pengetahuan dan penitipan benih. Selain itu juga dapat mengadopsi teknologi untuk membangun bank benih dengan spesies tertentu, seperti mengadopsi bentuk kubah benihnya khusus untuk benih tropis di masa depan,” kata Johansen.

“Berdasarkan pengalaman kami ketika mengunjungi bank benih di Korea Selatan tersebut, pengelola sangat terbuka dengan kerja sama penitipan benih yang berasal dari negara di luar Korea Selatan,” pungkas Johansen.

Sebagai informasi, keberadaan bank benih kelas dunia baru ada di dua negara, yaitu Svalbard Global Seed Vault di Norwegia dan Baekdudaegan Seed Vault di Korea Selatan. Secara umum, perbedaan keduanya terletak pada spesies yang difokuskan. Norwegia fokus kepada tanaman pertanian, sedangkan Korea Selatan fokus kepada tanaman liar hutan.

Kelebihan dari Korea Selatan adalah keanekaragaman hayati dan sumber daya genetik yang sangat kaya serta pembebasan biaya dalam penyimpanan benih dengan membuat kerja sama bersama antara beberapa negara. Fasilitas bank benih di Korea Selatan memiliki fasilitas ruang penyimpanan dengan suhu kondisi -20 °C dan RH 40%. Bank benih ini disiapkan untuk menahan serangan nuklir, gempa bumi dan pemanasan global.***

----------- 

Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli

Jln. Raya Parapat Km. 10,5 Desa Sibaganding, Kec. Girsang Sipanganbolon, Parapat, Kab. Simalungun, Prov. Sumatera Utara 21174

Email : bpk.aeknauli@gmail.com

Web : http://aeknauli.org

FB : Balitbang LHK Aek Nauli

IG : bp2lhk_aeknauli

Twitter : @bpk_aeknauli

Youtube : BP2LHK AekNauli

 

Penulis : BP2LHK Aek Nauli
Editor : Risda Hutagalung