Dientry oleh BP2TSTH Kuok - 03 May, 2021 - 62 klik
Kiprah Litbang Kuok dalam Pencanangan Kampung Taxus di Sumbar

" Upaya tersebut dilakukan untuk merealisasikan Pandai Sikek sebagai icon taxus melalui skema pemberdayaan masyarakat, guna mengembangkan wisata ilmiah tanaman langka yang dikenal dengan cemara sumatra ini sebagai bahan bioherbal dari aspek hulu hingga ke hilir "

[FORDA] _Pencanangan Nagari Pandai Sikek sebagai Kampung Taxus resmi dilakukan beberapa waktu lalu. Pencanangan yang ditandai dengan penanaman di kaki Gunung Singgalang, tepatnya di kaki Bukit Kumayan ini merupakan sebuah langkah awal dalam upaya konservasi jenis taxus di Ranah Minang. Selain sebagai kebun pangkas, areal penanaman ini diharapkan dapat menjadi sebuah objek wisata alam di Sumatera Barat, dalam skema edukasi dan sarana penelitian.

Bagi Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) Kuok, pencanangan ini merupakan salah satu bentuk kiprahnya terkait pelestarian Taxus sumatrana yang lebih dikenal dengan cemara sumatra ini. Menurut Kepala BP2TSTH, Priyo Kusumedi, S.Hut, MP, hasil eksplorasi taxus yang dilakukan Tim Peneliti BP2TSTH Kuok bekerja sama dengan BKSDA Sumbar dan masyarakat Pandai Sikek telah memperkaya informasi dan temuan baru terkait potensi dan penyebaran taxus di Pulau Sumatera, khususnya di Sumatera Barat.

“Selain itu, Litbang Kuok juga membimbing Kelompok Tani Hutan (KTH) Taxus Singgalang dalam pembuatan proposal kemitraan kepada perusahaan BUMN. Upaya tersebut dilakukan untuk merealisasikan Pandai Sikek sebagai icon taxus melalui skema pemberdayaan masyarakat, guna mengembangkan wisata ilmiah tanaman langka T.sumatrana sebagai bahan bioherbal dari aspek hulu hingga ke hilir,” ungkap Priyo di hadapan Kepala Dinas Kehutanan Sumatera Barat, Kepala UPT KLHK, Kerapatan Adat Nagari dan pemerintah setempat, saat menyampaikan komitmen bersama dalam pencanangan tersebut.

Sebagaimana diketahui, Taxus Sumatera merupakan tumbuhan bermanfaat besar dengan nilai ekonomi yang tinggi karena kapasitas farmakologisnya. Namun secara alami taxus rentan terhadap kepunahan. Meskipun di negara-negara lain spesies taxus telah dieksploitasi, di Indonesia jenis ini kurang dikenal sehingga pemanfaatannya belum maksimal. Dalam upaya untuk tetap memperoleh manfaatnya, terutama bagi masyarakat sekitar hutan sekaligus menjaga kelestariannya, perlu dilakukan domestikasi dan pengembangan jenis ini menjadi produk herbal.

Beberapa informasi mengenai potensi pemanfaatan yang berhasil dihimpun yaitu taxus memiliki kandungan senyawa aktif yang mampu menghambat pertumbuhan sel kanker. Jenis-jenis taxus di banyak negara telah dieksploitasi untuk menghasilkan senyawa paclitaxel yang dipasarkan dengan merek dagang Taxol.

Terungkap juga bahwa eksploitasi yang berlebihan dan karakter alamiah taxus yang lambat perbanyakan alamiahnya menyebabkan kelangkaan jenis ini di alam. Sehingga dalam upaya menjaga populasinya dialam, Appendix II CITES mencantumkannya ke dalam daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Di Indonesia, T. sumaterana telah termasuk dalam daftar jenis tumbuhan yang dilindungi dalam Keputusan Menteri LHK Nomor 106 Tahun 2018.

Terkait pencapaian atas kolaborasi dengan KTH, Dodi Frianto, SP, M. Si, Peneliti Muda BP2TSTH Kuok menyebut cukup berhasil. “Budidaya Taxus sumatrana yang dilakukan oleh KTH saat ini cukup berhasil. Tanaman saat ini merupakan hasil perbanyakan dari 11 Pohon induk yang berada di Gunung Singgalang. Ke depan kami bersama tim penelitian yang lain akan mengoleksi taxus dari daerah lain untuk ditanam di Singgalang sebagai kebun pangkasan, konservasi genetik, edukasi dan wisata ilmiah,” ujar Dodi sambil menanam.

Sebagai perwakilan pemerintah setempat, Wali Nagari Pandai Sikek, H. Harmen ST. Rajo Malano yang turut hadir pada kegiatan tersebut menyampaikan dukungannya terhadap upaya pelestarian T. sumatrana.  “Kami sebagai aparatur desa mendukung kegiatan KTH yang fokus dengan jenis taxus ini. Kita memiliki potensi, yang mana saat ini masyarakat di Nagari Pandai Sikek berjumlah 1.661 KK, dengan penduduk sebanyak 5.604 jiwa, jika 1 orang menanam 1 taxus di lahan maka kedepannya akan terdapat sebanyak 5.604 taxus di Pandai Sikek. Dengan demikian Nagari Pandai Sikek akan menjadi Nagari Taxus, dan ini sangat logis terwujud,” ujar Harmen.

Refi Agustinur Halim,S.Pi., selaku juru bicara KTH Taxus Singgalang mengungkapkan beberapa program kerja KTH dalam mewujudkan mimpi bersama tersebut. “Saat ini KTH sedang menyiapkan sekitar 20.000 batang stek taxus untuk ditanam periode berikutnya baik di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Jika rumah tangga yang ada di nagari ini turut serta, maka sudah akan terdapat populasi taxus sebanyak lima ribuan di luar kawasan hutan,” ungkap pria alumnus Universitas Andalas ini.

Di sela-sela penanaman, Yozawardi, S. Hut, M. Si selaku Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat menyatakan apresiasi atas upaya penyelamatan tanaman langka dan dilindungi ini. menurutnya, upaya konservasi T.sumatrana ini sejalan dengan visi “Terwujudnya Sumatera Barat madani yang unggul dan berkelanjutan” dan misi “Meningkatkan nilai tambah dan produktivitas produk pertanian dan kehutanan”.

“Seperti yang kita ketahui, taxus ini memiliki nilai tambah yang banyak terutama di bidang farmakologi dan ekonomi. Maka dengan terjaganya kelestarian taxus di Singgalang akan merealisasikan visi dan misi di atas,” jelas Yozawardi.

Harapan ke depan, sinergitas yang ada hingga saat ini antara Dinas Kehutanan Sumatera Barat, BKSDA Sumatera Barat, BPDASHL Agam Kuantan, BP2TSTH Kuok, pemerintah daerah dan pemangku adat yang ada di Nagari Pandai Sikek tetap terlaksana. Dengan demikian, Taxus Sumatrana, salah satu kekayaan plasma nutfah di negara mega biodiversitas terbesar kedua di dunia ini tetap terjaga.***(DF)

Penulis : Dodi Frianto
Editor : Risda Hutagalung