Dientry oleh BP2LHK Palembang - 22 June, 2021 - 321 klik
Webinar OPL BP2LHK Palembang Kini Hadir dalam Bentuk Buku

" Buku setebal 284 halaman ini mengulik fenomena-fenomena di seputar kegiatan penelitian yang belum sempat tersentuh hingga sering diabaikan namun layak untuk dijadikan pengetahuan baru. Harmonisasi manusia dan alam yang diceritakan dalam buku ini dikelompokkan dalam tiga bagian, yaitu di dataran tinggi, di dataran rendah, dan di lahan basah "

[FORDA] _Setelah sukses digelar Balai Litbang LHK Palembang September hingga Desember 2020 lalu, tujuh webinar talkshow Obrolan Pelepas Lelah (OPL) berseri, kini hadir dalam bentuk buku. Diberi judul sesuai dengan tema besar webinar OPL yaitu Harmoni Baru Manusia dan Alam di Dataran Tinggi, Dataran Rendah, dan Lahan Basah, buku ini merupakan kumpulan tulisan dari materi para pembicaranya.

Buku setebal 284 halaman ini mengulik fenomena-fenomena di seputar kegiatan penelitian yang belum sempat tersentuh hingga sering diabaikan namun layak untuk dijadikan pengetahuan baru. Harmonisasi manusia dan alam yang diceritakan dalam buku ini dikelompokkan dalam tiga bagian, yaitu di dataran tinggi, di dataran rendah, dan di lahan basah.

Pada bagian satu, buku ini mengajak sahabat OPL untuk bioprospeksi di dataran tinggi, diantaranya membahas mengenai pengobatan tradisional dengan memanfaatkan tumbuhan yang dipercaya berfungsi sebagai obat. Rotan jernang disebut bermanfaat sebagai obat tradisional, bahan baku industri obat, industri kosmetik, serta industri pewarna, sedangkan barangan atau saninten disebut sebagai salah satu sumber pangan potensial. Pada bagian ini juga disampaikan teknologi pengembangan budidaya bambang lanang.

Buku ini juga mengungkap bahwa tak selamanya harmoni manusia dan alam di dataran tinggi dapat berjalan beriringan. Disharmoni yang kerap terjadi di sini juga disuguhkan kepada sahabat OPL untuk memahami betapa banyak persoalan mendasar yang perlu dikaji lebih lanjut. Semakin berkurangnya keberadaan rotan jernang dan barangan, serta semakin langka tumbuhan yang memiliki fungsi sebagai tanaman obat, adalah beberapa diantaranya. Untuk itu, etnobiologi dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan pembangunan berkelanjutan untuk mewujudkan harmoni manusia dan alam.

Yang tak kalah menarik untuk dibaca di bagian satu ini adalah konsepsi baru yang diberi nama Blusukan Lanskap (BL). BL merupakan upaya untuk mendorong interaksi positif antar pihak yang terlibat agar terjadi proses reflektif-kreatif yang menghasilkan kelestarian lanskap.

Harmonisasi Manusia dan Alam di Dataran Rendah dibahas di bagian kedua. Bab ini mengajak sahabat OPL untuk melihat peluang-peluang bagaimana meningkatkan dan memulihkan sumber daya di dataran rendah. Di sini diungkap potensi kayu pelawan sebagai kayu energi, budidaya jamur pelawan, gajah sebagai alat angkut bibit di daerah remote, dampak kebakaran hutan terhadap kerentanan hama, dan satwa unik tarsius belitung, serta keberhasilan memulihkan kondisi hutan alam tidak produktif.

Menilik bagian terakhir dari buku ini yaitu Harmonisasi Manusia dan Alam di Lahan Basah, sahabat OPL digiring untuk melihat kondisi di lahan basah mulai dari potensi lahan basah seperti sistem paludikultur, getah jelutung, kantong semar, sineol yang dihasilkan gelam, madu mangrove, hingga karakteristik lahan basah dan bahaya kebakaran di lahan gambut. Isu gender dalam pengelolaan lahan gambut tak ketinggalan dibahas di sini.

Bagaimana sahabat OPL, jadi semakin penasaran ingin menyingkap apa saja hal-hal yang belum terungkap untuk harmoni baru manusia dan alam, bukan?. Sebagai informasi, selain hardcopy, buku ini juga tersedia dalam versi e-book. Jadi, sahabat OPL dari seluruh penjuru nusantara yang tertarik membacanya, dapat mengaksesnya melalui tautan berikut: https://www.forda-mof.org/content/publikasi/post/752. Selamat membaca!***(Yulni)

Penulis : Yulni
Editor : Risda Hutagalung