Dientry oleh BALITEK DAS Solo - 21 June, 2021 - 181 klik
Pengelolaan Recharge Area-Daerah Imbuhan Air, Balitek DAS Sarankan Tiga Hal

" Penentuan pola agroforestry pada pengelolaan recharge area dapat dilakukan dengan cara mengkolaborasikan hasil penelitian terkait agroforestry yang memiliki interaksi positif dan 15 jenis tanaman pelindung mata air yang tersurat dalam Buku Pohon Sahabat Air "

[FORDA] _Dalam pengelolaan recharge area (daerah imbuhan air) dan daerah sekitar mata air, Dody Yuliantoro, S.P., Teknisi Litkayasa pada Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS) mengungkapkan ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu penentuan recharge area; penentuan zonasi perlindungan mata air; serta pemilihan pola agroforestry.

Recharge area dan daerah sekitar mata air yang tidak dikelola secara berkelanjutan memicu timbulnya berbagai persoalan, diantaranya adalah bencana kekeringan. Kekeringan yang terjadi ini salah satunya adalah akibat rusaknya recharge area akibat alih fungsi lahan dan pengelolaan yang tidak tepat,” kata Dody saat menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Teknis Perencanaan Pengendalian Kerusakan Perairan Darat di Yogyakarta, Jumat (11/06/2021).

Sebagaimana diketahui, recharge area berperan penting dalam keberlangsungan siklus air di bumi. Area ini merupakan tempat meresapnya air hujan dari permukaan tanah ke dalam zona jenuh air sehingga berpotensi menjadi air tanah. Para pakar menyebut, wilayah ini tidak hanya memasok air tanah secara lokal, tetapi dapat mengalir ke daerah yang lebih rendah sampai seluruh cekungan.

Oleh karena itu, Dody menegaskan bahwa pengelolaan recharge area dan daerah sekitar mata air harus dilakukan secara utuh, holistik dan terpadu dengan keterlibatan para pihak. Salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan penanaman dengan pemilihan jenis tanaman yang tepat.

Menurutnya, hal yang pertama dan terpenting sebelum menentukan jenis tanaman pelindung mata air dan penentuan pola agroforestry adalah penentuan recharge area. Dengan adanya lokasi yang tepat maka dapat dipilih jenis tanaman dan pola agroforestry yang tepat sesuai dengan syarat tempat tumbuh.

“Buku "Pohon Sahabat Air" yang telah diterbitkan oleh Balitek DAS bisa menjadi pedoman dalam pemilihan jenis tanaman. Buku ini berisikan 15 jenis tanaman pelindung mata air,” ungkap Dody.

Dody berharap, adanya informasi jenis tanaman perlindungan mata air dapat menentukan pola agroforestry yang tepat pada recharge area dan daerah sekitar mata air, tentunya dengan mempertimbangkan aspek ekologi dan sosial ekonomi.

“Untuk penentuan pola agroforestry pada pengelolaan recharge area dapat dilakukan dengan cara mengkolaborasikan hasil penelitian terkait agroforestry yang memiliki interaksi positif dan 15 jenis tanaman pelindung mata air yang tersirat dalam buku Pohon Sahabat air,” tambahnya.

Sebagai informasi, Rapat Koordinasi Teknis Perencanaan Pengendalian Kerusakan Perairan Darat ini dilaksanakan oleh Direktorat Pengendalian Kerusakan Perairan Darat, Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung secara daring dan luring selama dua hari , Kamis-Jumat, 10-11 Juni 2021. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan sinergi berbagai pihak dalam pengelolaan recharge area dan daerah sekitar mata air.

Selain Balitek DAS, pada kesempatan tersebut juga hadir narasumber dari berbagai instansi, yaitu Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), para akademisi, Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geologi (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencanan (BNPB), dan Direktorat PKPD. Sedangkan peserta yang mengikuti acara tersebut berasal dari BPDASHL seluruh Indonesia, kementerian/lembaga terkait, Dinas LHK Prov. DIY, dan komunitas penggiat terkait perairan darat.***

Penulis : Dody Yuliantoro & Tri Hastuti Swandayani
Editor : Risda Hutagalung